• Jl. Siwalan No. 37, Kerten, Laweyan, Surakarta
  • (0271) 765 17 17
  • solocancerhospital@gmail.com

Trauma Psikis: Kemana Harus Berobat?

Sering kali kita mendengar atau bahkan mengucapkan “Saya sudah lama trauma dengan kejadian 1 tahun yang lalu!”. Sayanganya kita tidak begitu faham mengenai arti dari kata “Trauma”. Kata trauma memiliki banyak konotasi dan arti. Secara umum, trauma merupakan sebuah luka yang dapat berupa fisik maupun psikis yang keduanya memiliki dampak dan cara penanganan yang berbeda.

Sebagai ilustrasi, ada seseorang laki-laki berusia 25 tahun yang mengalami kecelakaan lalu lintas 1 tahun yang lalu. Beruntungnya dia hanya mengalami trauma fisik berupa patah tulang pada tungkai kanannya sehingga harus mendapatkan tindakan operasi. Setelah beberapa bulan, orang tersebut dapat sembuh dan dapat berjalan kembali. Namun, beberapa waktu setelah peritiwa nahas tersebut, dia selalu merasa cemas, sedih dan tidak bisa melepaskan pikirannya dari peristiwa nahas tersebut sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Teman-temannya menyaranakan untuk berkonsultasi dengan Psikiater (spesialis kedokteran jiwa). Namun pemuda itu secara spontan menolaknya. Setelah dibujuk oleh pacarnya, pria pergi ke rumah sakit Permata Harapan Cancer Center (PHCC) untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater. Psikiater tersebut menyatakan bahwa pria tersebut mengalami Post-traumatic Syndrome Disorder (PTSD) atau sering dikenal sebagai Gagguan Stress Pascatrauma. Setelah menjalani beberapa kali pengobatan, Pria tersebut baru menyadari bahwa berkonsultasi dengan Psikiater sangatlah penting karena dapat membantu kesembuhan gangguan mental dan kejiwaannya.

Ilustrasi diatas memberikan kita gambaran bahwa sebuah peristiwa yang menimpa seseorang dapat menimbulkan trauma fisik maupun trauma psikis yang dapat menimbulkan masalah yang serius dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas mengenai PTSD secara lebih mendalam.

PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami atau disaksikan. Contoh pengalaman traumatis yang dapa memicu PTSD adalah pemerkosaan, kehilangan orang yang dicintai, kecelakaan, korban tindakan kekerasan, korban bencana alam, pengalaman di medan perang, dll. PTSD termasuk kategori gangguan kecemasan yang membuat penderitanya tidak bisa melupakan atau sebaliknya tidak mau mengingat pengalaman traumatis tersebut, serta berpikir negatif terhadap diri sendiri dan dunia sekitarnya.

Bantulah orang-orang disekitar anda untuk mengenali gejala dan tanda PTSD. Ada beberapa tada dan gejala yang khas pada penderita PTSD yaitu berupa mimpi buruk, merasa terisolasi, sering merasa ketakutan, penyalahgunaan obat-obatan, kesulitan dalam berkonsentrasi, hingga kehilangan selera makan. Bagaimanapun, tidak semua orang yang mengalami kejadian traumatik selalu akan mengidap PTSD. Diperkirakan 30 persen di antara orang-orang yang pernah mengalami kejadian traumatis akan mengalami PTSD. Ternyata ada beberapa aktivitas yang terbukti dapat membantu seorang penderita PTSD seperti, bermeditasi, melakukan olahraga rutin, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, menulis pengalaman hidup, dan bersosialisasi dengan orang-orang terdekatnya. Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti mampu membantu seseorang dengan PTSD untuk segera pulih dari masa lalunya. Ayo Move on dong!

Gejala dan tanda PTSD cenderung mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama saat berinteraksi dengan orang lain serta lingkungan kerja. Gejala yang muncul pada tiap pengidap bisa berbeda-beda sesuai dengan usia, jenis kelamin, kondisi fisik dan lingkungan. Ada yang mengalaminya segera setelah kejadian dan ada juga yang muncul setelah beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Selain itu, PTSD juga dapat terjadi pada anak-anak. Pada anak-anak, terdapat beberapa gejala dan tanda khusus yang harus diwaspadai seperti, melakukan demonstrasi peristiwa tragis melalui permainan, mengompol, serta sangat gelisah saat berpisah dengan orang tua.

Sebagian besar kasus PTSD dapat membaik setelah beberapa minggu tanpa penanganan khusus. Namun, seorang yang memiliki gejala dan tanda yang berkaitan dengan peristiwa buruk di masa lalu sebaiknya segera berkonsultasi dengan Psikiater. Seorang Psikiater akan melakukan pemeriksaan psikologis lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis PTSD dan menentukan tingkat keparahannya. Apabila seorang pasien mengalami perburukan kondisi PTSD, maka pasien tersebut membutuhkan langkah penanganan lebih lanjut, yaitu kombinasi terapi psikologis dan pemberian obat yang hanya dapat diberikan oleh seorang Psikiater.